jejak pelangi

Rasa Bahagia

Posted on Updated on

Pernahkah Readers semua merasakan bahagia? Pasti pernah, merasa bahagia karena sesuatu hal. Dalam hidup ini ada banyak hal yang bisa membuat seseorang merasakan kebahagiaan, pun walau hanya berasal dari sesuatu hal yang sangat sederhana. Misalnya saja, ketika kita melihat seseorang yang tersenyum dengan tulus kepada kita. Secara tidak kita sadari, gurat bahagia wajah orang yang sedang tersenyum itu akan menular kepada kita, sehingga kita juga akan ikut tersenyum dan hati kita juga merasa bahagia.

Ada yang bilang, bahagia itu letaknya ada di hati. Namun tak banyak dari kita yang mampu menemukannya ketika kita benar-benar menginginkan rasa itu menyapa kita. Apanya yang salah? Mungkin hanya pemahaman kita yang belum tepat dalam proses penciptaan rasa bahagia itu. Bukankah bahagia itu letaknya ada di hati? Jadi, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuat hati kita mampu menerima apa pun yang sedang terjadi, meskipun itu bukanlah sesuatu yang kita ingini. Kemudian, langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah menumbuhkan rasa syukur di dalam hati kita. Bersyukurlah, niscaya nikmat kita akan bertambah.

Jadi, tunggu apalagi? Mari kita songsong rasa bahagia itu segera. 🙂

Rasa sedih itu ada karena kita yang mengijinkannya.

*Sumber gambar: DeviantArt.com

Advertisements

Pelangiku telah kembali

Posted on Updated on

Saat itu, aku tak tahu apa yang membuatku menghapusmu dari diriku. Yang ku tahu, saat itu aku sedang benar-benar galau, dan satu-satunya cara yang mungkin tak benar untuk dipilih, tetapi aku telah memilihnya, adalah dengan menghapusmu. Sekian lama aku mencoba mencari sosok penggantimu, tapi tak kunjung juga ku temukan. Hingga akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa dirimu tak kan bisa tergantikan.

*Semoga warna-warnamu tak pernah luntur oleh waktu. Tetap torehkanlah tinta maya yang mampu memberi inspirasi untuk semua.

Jalan Kenangan

Posted on

Rasanya sudah begitu lama kutinggalkan jalan yang penuh kenangan itu. Meski dulu tak sepenuhnya jiwaku berada didalamnya, tapi kini, dengan segenap jiwa, kurasakan sebentuk rindu yang terus menyeruak ingin kembali ke jalan itu. Rindu itu begitu menggebu. Membuatku takluk, bertekuk lutut, dan tak mampu lagi beralih ke jalan lain, selain jalan itu.

Dulu, kami berjalan bersama-sama di jalan yang penuh kenangan itu. Aku dan sahabat-sahabatku. Namun kini kami telah tercerai-berai. Dipisahkan oleh takdir. Masing-masing dari kami telah memiliki jalan-jalan baru yang harus dilalui. Jalan-jalan yang tak jauh beda dengan jalan yang pernah kami tapaki bersama-sama dulu. Namun, karena itu jugalah, aku dan mereka bertemu dengan sahabat-sahabat baru, di jalan yang baru. Seperti mengembangkan sayap. Mungkin itulah istilah yang paling cocok untuk kondisi kami saat ini.

Jalan itu, benar-benar telah menyisakan begitu banyak kenangan untuk kami, terutama untukku. Dari sana juga kupunguti semangatku yang saat ini kurasakan mulai luntur, perlahan tapi pasti.

Jalan itu, akan selalu ada diingatanku dan mereka. Seperti kobar api abadi yang akan selalu menyala sepanjang masa.

Stasiun Kehidupan ke-23

Posted on

Akhirnya sampai juga diri ini di stasiun kehidupan yang ke-23. Alhamdulillah… tapi masih banyak mimpi-mimpi yang belum terwujud, semoga di usia ke-23 ini dapat tercapai segala cita-cita. Semoga berkah umur ini, semoga keberkahan Allah swt buat kita semua. Amin ^__^

Bonuz Pertama

Posted on Updated on

Alhamdulillah! Afv bahagia,  akhirnya lelaki cemara angin itu buka suara juga :). Tapi tak hanya itu, dia juga membawa berita gembira dengan suaranya yang ‘mahal’ itu.  Tak terasa, ini adalah minggu keempat Afv bekerja di tempat yang luar biasa ini.  Tak ada angin, tak ada badai, tapi tetap ada hujan  *doooh… bahasanya 😀* tiba-tiba  pagi ini, afv seperti di hajar oleh suara halilintar *hayah!*.

Horee!!! Afv menerima amplop pertamanya 🙂

Keluarga Baru

Posted on Updated on

1_694110565lIni bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di tempat ini. Tentu, sebagai seorang pelanggan, bukan sebagai seorang pekerja. Tidak seperti satu minggu yang lalu ketika aku datang ke tempat itu sebagai seorang pekerja. Meski masih merasa sedikit asing, namun tetap ramah dan tak terlihat seperti biasa ketika aku datang sebagai seorang pelanggan seperti dulu.

Kesan pertama, tempat ini terlihat begitu sederhana. Tapi setelah kujelajahi ruang demi ruang, bilik demi bilik, dan lorong demi lorong, aku menemukan sebuah pintu tua yang bersekat di ujung lorong tersebut. Saat aku membuka pintu itu, terlihat sebuah sungai kecil yang mengalir tepat di depan pintu itu. Lalu di seberang sungai kecil itu, terhampar sebuah kebun bunga liar yang hijau. Terhampar seperti sebuah lukisan alam dengan pintu tersebut sebagai bingkainya. Luar biasa indah! Bagiku, itulah harta karun nyata yang ada di tempat ini.

Alhamdulillah, akhirnya aku punya keluarga baru sekarang. Di tempat inilah  aku yang masih pemula ini akan belajar tentang banyak hal. Tentang interaksi sesama manusia, tentang mengetik dan melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Sungguh bukan sebuah pelajaran yang akan didapat dengan mudah di bangku sekolahan. Ini nyata! Menyenangkan, dinamis dan penuh warna! 🙂

Lunas!

Posted on Updated on

maryamahkarpov11

Janjiku kepada beberapa orang sahabat beberapa bulan yang lalu untuk membeli Novel Maryamah Karpov lunas sudah. Lega rasanya novel tersebut telah terbit dan pada saat yang sama aku mampu membelinya. Pasti Tuhan tahu bahwa aku bersungguh-sungguh ingin menepati janjiku itu.

Sebelumnya, sempat terbersit rasa cemas bila uang ini tak cukup untuk membeli novel itu. Rupanya Tuhan tahu, tapi Dia menunggu. Dia hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk membuatku bahagia dengan memberi jalan keluar atas kecemasanku itu. Ternyata Dia tengah mengutus seseorang yang akan membantuku keluar dari masalah klasik tersebut. Alhamdulillah, akhirnya Sabtu siang itu aku jadi juga pergi ke toko buku untuk membeli novel yang telah lama ditunggu-tunggu itu.

Jujur, ini adalah kali pertama aku membeli sebuah buku yang buatku harganya cukup mahal, yang didalamnya terdapat alur cerita yang kemungkinannya sangat kecil akan keluar dalam ujian-ujian di bangku pendidikan formal maupun nonformal. Bahkan, dalam kamus pikiranku, hal tersebut merupakan sebuah tindakan pemborosan. Namun telah kubuat sebuah pengecualian khusus untuk novel tersebut. Sebuah novel yang akan dapat membayar lunas hutangku.

*Dan kini, novel tersebut tengah bergulir diantara para sahabatku untuk dibaca secara bergiliran 🙂