A Child with Her Grandma

Posted on


Sebuah potret bahagia yang sesungguhnya.

Posted by ShoZu

Tertambat Rindu

Posted on Updated on

Sudah berbulan-bulan lamanya saya mencoba untuk meninggalkan halaman ini. Tapi, hari ini tiba-tiba saja saya sangat merindukan halaman ini. 😦 Sepertinya saya benar-benar tertambat rindu. 😀

Waktu itu, saya meninggalkan halaman ini karena akan menyibukkan diri dengan mengurus blog saya yang lebih dulu ada, hingga saat ini. Saya ingin fokus terhadap blog itu. Namun, ternyata hati ini membawa saya kembali lagi kesini. 🙂

Saya rindu halaman ini. Saya rindu menulis lagi di halaman ini. Saya rindu… benar-benar merasa rindu… 🙂

Pelangiku telah kembali

Posted on Updated on

Saat itu, aku tak tahu apa yang membuatku menghapusmu dari diriku. Yang ku tahu, saat itu aku sedang benar-benar galau, dan satu-satunya cara yang mungkin tak benar untuk dipilih, tetapi aku telah memilihnya, adalah dengan menghapusmu. Sekian lama aku mencoba mencari sosok penggantimu, tapi tak kunjung juga ku temukan. Hingga akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa dirimu tak kan bisa tergantikan.

*Semoga warna-warnamu tak pernah luntur oleh waktu. Tetap torehkanlah tinta maya yang mampu memberi inspirasi untuk semua.

Yang Tertunda

Posted on

Kebahagiaanku yang tertunda, seolah membayangi setiap langkah hidup yang kuambil. Tak tuntas, seperti ada sesuatu yang masih mengganjal. Sebuah kebahagiaan yang tak sekedar suka cita. Bahagia yang dapat membuat hidup dapat berlanjut *atas ridho-Nya*.

Kapankah kiranya aku dapat melunasi ini semua, hingga tak ada lagi ganjalan di jiwa. Bantu aku Tuhan, bantu aku menuntaskan satu episode yang masih ‘to be contunue’ ini…

Jangan pernah biarkan aku berhenti bermimpi… apalagi sampai berhenti melangkahkan kaki…

Jalan Kenangan

Posted on

Rasanya sudah begitu lama kutinggalkan jalan yang penuh kenangan itu. Meski dulu tak sepenuhnya jiwaku berada didalamnya, tapi kini, dengan segenap jiwa, kurasakan sebentuk rindu yang terus menyeruak ingin kembali ke jalan itu. Rindu itu begitu menggebu. Membuatku takluk, bertekuk lutut, dan tak mampu lagi beralih ke jalan lain, selain jalan itu.

Dulu, kami berjalan bersama-sama di jalan yang penuh kenangan itu. Aku dan sahabat-sahabatku. Namun kini kami telah tercerai-berai. Dipisahkan oleh takdir. Masing-masing dari kami telah memiliki jalan-jalan baru yang harus dilalui. Jalan-jalan yang tak jauh beda dengan jalan yang pernah kami tapaki bersama-sama dulu. Namun, karena itu jugalah, aku dan mereka bertemu dengan sahabat-sahabat baru, di jalan yang baru. Seperti mengembangkan sayap. Mungkin itulah istilah yang paling cocok untuk kondisi kami saat ini.

Jalan itu, benar-benar telah menyisakan begitu banyak kenangan untuk kami, terutama untukku. Dari sana juga kupunguti semangatku yang saat ini kurasakan mulai luntur, perlahan tapi pasti.

Jalan itu, akan selalu ada diingatanku dan mereka. Seperti kobar api abadi yang akan selalu menyala sepanjang masa.

Stasiun Kehidupan ke-23

Posted on

Akhirnya sampai juga diri ini di stasiun kehidupan yang ke-23. Alhamdulillah… tapi masih banyak mimpi-mimpi yang belum terwujud, semoga di usia ke-23 ini dapat tercapai segala cita-cita. Semoga berkah umur ini, semoga keberkahan Allah swt buat kita semua. Amin ^__^

Andai Saja Mereka Tahu

Posted on

Hati ini gundah, tak tahu apa maunya. Hanya sang hujan yang setia menemani, pun dia kadang berhenti juga menghujam bumi. Hanya, suaranya yang memberi nada, mengisi kekosongan jiwa, menghapus sedikit jejak luka, membersihkannya, dan menutup kembali luka yang menganga itu.

*****

Semalam, wajahku ditampar rintik hujan. Namun tak hanya sakit di muka, pun di hati. Sakit di hati? Tentu bukan hujan itu yang melukai, tetapi kenangan tentang hujan lah yang telah menusuk-nusuk luka yang sempat menutup itu hingga akhirnya terbuka kembali. Perih… Perih sekali rasanya. Andaikan ada obat penawar untuk luka ku itu… Lagi-lagi, takdir menempatkanku di posisi yang rumit dan dilematis. Tapi, pastilah ini cara-Nya untuk membentukku menjadi manusia yang lebih baik.

***********************       000         *********************     000      *********************

Setiap kali kutatap kedua ikan warna oranye yang ada di dalam aquarium di sudut ruangan ini, membuatku terpikir bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang memisahkan. Kedua ikan itu adalah dua jenis spesies ikan yang berbeda. Yang satu ikan koki dan satunya lagi ikan komet. Ikan koki yang terlihat besar dan anggun dan ikan komet yang ramping dan gesit. Sampai sekarang aku belum tahu kenapa orang itu memilih dua ikan itu untuk dirawat di aquariumnya. Hanya sekedar untuk memperindah ruangan kah? Atau ada tujuan lain?

Ku amati.  Kulihat kedua ikan itu sering menubruk-nubrukkan diri mereka ke kaca. Mungkin mereka ingin keluar dari batas bening yang tak dapat mereka tembus itu. Tapi mereka tak tahu bahwa di luar batas bening itu, tak ada air yang dapat mereka jadikan sebagai media untuk berenang. Harusnya, mereka bisa menerima keadaan yang sudah cukup menyenangkan itu. Hidup di lingkungan yang terkondisi baik, diberi makan setiap hari, dan fasilitas-fasilitas lainnya. Tapi kenapa mereka tak mampu mensyukuri semua nikmat itu? Andai saja mereka tahu…

Itu hanyalah sebuah ilustrasi. Meski sakit karena teleh menubruk kaca bening yang membatasi dunianya dengan dunia luar, tapi ikan-ikan itu tak berhenti juga melakukan hal bodoh itu. Mereka terus melakukannya hingga berulang-ulang, padahal tak ada hasil yang mereka peroleh selain sakit. Karena ikan bukanlah makhluk yang berakal!

*Manusia diberi akal oleh Tuhan, tentu bukan tanpa tujuan.